Memaknai Hari Senin

Memaknai Hari Senin

Hari awal bekerja adalah hal yang menjemukan dan ingin dihindari. Tapi tidak bisa di pungkiri setiap minggunya kamu pasti bertemu dengan hari Senin. Rasa jemu, malas, dan sebagainya yang kamu rasakan ketika menjumpai hari Senin ini biasanya karena di hari libur kamu terlalu banyak aktifitas, sehingga waktu istirahat yang kamu gunakan sangat sedikit, oleh karena itu kamu membutuhkan hari yang lebih untuk istirahat.

Atau sebagian orang juga malas menjumpai hari Senin di kantor karena aktivitas kantor yang padat, misalnya meeting di pagi hari, jadwal report yang belum selesai, dan banyak deadline yang di jumpai di hari Senin.

Lalu bagaimana kamu harus tetap santai dalam menghadapi hari Senin kamu, ini tips nya:

  1. Maksimalkan hari libur terutama pada hari minggu untuk istirahat, bisa dalam pembagian waktu. Dipagi hari olahraga dan siang hingga sore istirahat di rumah, membersihkan rumah misalnya, atau menyiapkan hal-hal yang akan di bawa atau di pakai untuk hari Senin.
  2. Fokus kepada hal-hal penting. Mengapa Senin butuh persiapan yang maksimal? karena biasanya hari Senin memiliki pagi yang singkat, pagi dimana jika kamu telat mempersiapkan sesuatu 1 menit, maka biasanya akan telat 30 menit, karena walaupun kamu jalan kerja pagi-pagi sekali ternyata banyak orang juga berfikiran hal yang sama, jadi persiapkanlah hal yang penting agar tidak menunda waktu berangkat ke kantor.
  3. Positive thinking. Sebenarnya setiap hari pun kamu harus tetap positive thinking tapi hari Senin sangat butuh positive thinking yang ekstra, karena akan berdampak di hari-hari berikutnya. Positive thinking dapat menambahkan sekian persen mood kamu, jika mood kamu baik maka dalam melakukan apapun kamu juga semangat.

Kurang lebih itu 3 tips yang di perhatikan untuk memaknai hari Senin, semoga hari Senin kamu menyenangkan!

Keuntungan dari Virtual Office

Keuntungan dari Virtual Office

Virtual Office adalah sebuah “ruang kerja” yang berlokasi di dunia maya , dimana seorang individu dapat menyelesaikan tugas-tugas bisnis tanpa harus memiliki lokasi “fisik” dari usaha tersebut.

Disamping itu, Virtual Office sangat membantu sekali  untuk para start up bisnis yang belum mempunyai cukup modal untuk membeli/menyewa tempat dengan ukuran yang lebih besar.

Berikut beberapa keuntungan dari virtual office :

1. Meningkatkan citra & branding perusahaan anda dengan memiliki lokasi perusahaan yang strategis dan dipusat bisnis

2. Anda dapat memangkas biaya operasional hingga 90% dibandingkan dengan cara kerja konvensional

3. Anda akan tetap memiliki kantor yang elegan didukung dengan alamat domisili yang sah, resepsionis, ruang meeting, dan nomor telepon khusus tanpa membayar biaya lebih untuk menambah staff baru

4. Mengalokasikan waktu berharga Anda untuk aktivitas vital perusahaan tanpa mengurangi waktu santai Anda bersama keluarga dan orang-orang yang Anda cintai.

5. Memberikan Anda fleksibilitas untuk bekerja dari mana saja dari rumah, luar negeri atau lokasi lainnya.

6. Domisili Perusahaan yang sah perusahaan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mengurus izin hingga syarat mendirikan perusahaan.

7. Bisa untuk mengajukan PKP (Pengusaha Kena Pajak) bermanfaat bagi citra perusahaan Anda dan meningkatkan peluang kerja sama bisnis dengan pemerintah. Sesuai dengan peraturan pajak No.46 PMK no 147 thn. 2017 Virtual apabila penyewa ingin di kukuhkan sebagai PKP maka Virtual Office yang di pilih harus sudah PKP juga berikut persyaratannya :

  • Pengelola Kantor Virtual telah dikukuhkan sebagai PKP
  • Menyediakan ruangan fisik
  • Secara nyata melakukan layanan pendukung kantor
  • Pengguna jasa harus sudah memiliki izin usaha & dokumen legal

Sistem kantor virtual memiliki peluang besar untuk berkembang lebih luas penggunaannya karena memiliki nilai keuntungan yang lebih signifikan, di bandingkan beberapa kelemahannya.

Yuli Purwati// 27 September 2018

Kuasa Magis Media Sosial

Kuasa Magis Media Sosial

Cetusan revolusi Internet yang bermula sekitar tahun 1990-an telah berjaya mengubah landskap sosioekonomi dunia. Letusannya yang hebat bak gunung berapi di Iceland telah merubah cara kita bekerja, berkomunikasi, bersosial, malah berhibur. Daripada remaja berkulit putih di restoran Starbucks di Broadway, New York hinggalah remaja kulit sawo matang di makmal komputer sekolah di tanah tinggi Bario, Sarawak — kedua-dua kumpulan ini sama-sama merasai gegaran revolusi tersebut.

Namun tanpa disedari, gempa susulan daripada gegaran itu sedang dan bakal kita rasai. Gempa itu membawa satu lagi fenomena hasil kerja tangan pemain industri media versi 2.0 atau media sosial. Kini media sosial menjadi buah mulut, bermula dengan tarikan blog dan kini disusuli oleh magnet Facebook.

Malah dalam tempoh kurang tiga tahun kewujudannya, aktiviti bersosial secara maya berjaya menjadi aktiviti paling popular di Internet. Sebelum ini carta aktiviti Internet sekian lama telah diungguli aktiviti muat turun bahan pornografi. Jadi, apakah jampi yang ada pada media sosial yang menjadikannya senjata yang begitu ampuh?

Buktinya, lihatlah betapa bijaksana Presiden Barack Obama menjinakkan media sosial lalu mengenderainya ke Rumah Putih. Daripada seorang senator yang kurang popular pada 2004, kini beliau muncul menjadi antara ikon kulit hitam paling menonjol dalam sejarah dunia.

Sepanjang kempen Pilihan Raya Presiden 2008, pengundi muda yang menghabiskan masa berjam-jam melayari blog dipukau supaya singgah ke blog parti Demokratik. Mereka disuntik dengan mesej retorik yang menjadi nadi kepada karisma dan pengaruh beliau.

Serentak dengan itu, entiti perniagaan mula berbondong-bondong terjun dalam lautan biru ciptaan Facebook. Dari segi sejarah, laman media sosial paling popular di dunia ini telah diasaskan oleh Mark Zuckerberg pada 2004. Beliau cuma merupakan seorang mahasiswa muda ketika itu.

Beliau pada mulanya menetapkan Facebook hanya bagi kegunaan eksklusif rakan-rakannya di Harvard University. Namun kemudian Facebook diluaskan penggunaannya ke universiti lain seperti di Yale University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Semenjak itu Facebook terus meletup lalu menaiki tangga populariti antara khidmat rangkaian sosial yang paling terkenal di Internet. Kesannya kini sudah melebihi 400 juta pengguna berdaftar Facebook di seluruh dunia, menandingi MySpace, Friendster dan LinkedIn. Malah jika Facebook disamakan sebagai sebuah negara, jumlah populasinya kini adalah yang ketiga paling banyak selepas China dan India. Sebagai perbandingan, laman sosial LinkedIn yang bersifat agak serius cuma mempunyai sekitar 8.5 juta pengguna. Di Malaysia pula, berdasarkan statistik yang dikeluarkan oleh CheckFacebook.com, jumlah pengguna Facebook sudah mencecah satu juta orang.

Selain itu, jumlah laman di Facebook sudah mencecah tiga juta. Dari pasar raya besar (hypermarket) seperti TESCO, sehingga ke pasar peniaga ikan terubuk masin, semuanya berlumba-lumba menambah bilangan peminat setiap hari. Satu perkara yang pasti ialah media sosial menjadi jambatan yang menghubungkan pengeluar terus kepada prospek atau pelanggan.

Hal ini sekali gus menafikan peranan iklan dalam media tradisional seperti televisyen yang mencecah puluhan ribu ringgit kos masa siarannya. Oleh sebab itu, tidak hairanlah mengapa Paul Dunay, Pengarah Urusan di syarikat Avaya, berpendapat bahawa Facebook telah mengubah keaslian proses pemasaran.

Di samping itu, berdasarkan penyelidikan terkini terhadap 1 700 orang responden oleh Dr. Utpal Dholakia dari Rice University, syarikat yang menggunakan Facebook didapati berjaya menaikkan jumlah jualan produk atau perkhidmatan.

Bukan itu sahaja, kajian yang diterbitkan dalam Harvard Business Review ini menyatakan bahawa Facebook mampu mempromosikan jenama dan yang lebih penting ialah mengekalkan kesetiaan pengguna.

Selain itu, perkembangan terkini terutama yang bersifat tempatan bagi sesuatu peristiwa boleh dibaca pada dinding umum (wall) di Facebook. Malah kadang-kadang hebahan ini mendahului ketangkasan wartawan akhbar bercetak.

Natijahnya berita sampai kepada kita tanpa perlu diminta. Malah disediakan oleh kenalan kita sendiri (tanpa perlu diupah). Keadaan ini memadamkan sejarah yang dahulunya kita terpaksa beratur bagi membeli akhbar bercetak. Senario ini juga mencetuskan persoalan berkaitan kemandirian media cetak dan majalah yang mungkin bakal berkubur lusa jika tidak esok.

Dari segi rangkuman pula, walaupun Facebook mengehadkan jumlah rakan cuma kepada 5 000 orang, apabila saling berangkai, jumlahnya jauh lebih tinggi. Hal ini adalah kerana setiap rakan mempunyai maksimum 5 000 orang rakan yang lain.

Selain itu, kebergantungan kepada media tradisional seperti siaran televisyen percuma juga semakin terhakis. Kesannya pengendali stesen televisyen juga terpaksa tunduk, akur dengan kehebatan Facebook. Buktinya, kebanyakan rancangan televisyen terutama yang bersifat temu bual mengambil input daripada peminat lamannya melalui Facebook. Sebagai contoh, semasa majlis angkat sumpah Presiden Obama, laporan yang disiarkan langsung oleh Cable News Network (CNN) mendapat 8 500 komen dan bilangan kemas kini status bagi setiap minit di Facebook.

Walaupun secara umum Facebook berjaya menjadi tempat lepak maya rasmi bagi golongan remaja dan belia, statistik pada Februari 2009 pula menunjukkan media ini juga digemari golongan berumur. Buktinya salah satu segmen pengguna yang paling pantas berkembang ialah wanita berumur 55 tahun ke atas.

Selain itu, Facebook juga menawarkan platform pengiklanan percuma bagi mereka yang bijak menggunakannya. Fungsi fan page, group, event dan sebagainya sangat berkesan jika digunakan dengan betul. Namun, bagi mereka yang ingin menyerahkan kerja periklanan produk mereka kepada Facebook, mereka dikenakan bayaran berdasarkan bilangan kali iklan mereka diklik atau dipaparkan.

Justeru model niaga (business model) juga harus bergerak seiring kepantasan maklumat bergerak. Jika tidak, para pelanggan akan mengambil inisiatif sendiri bagi mendapatkan maklumat yang diingini mereka, hanya melalui media sosial. Sejurus dengan itu, Facebook juga bijak memanipulasi kewujudannya di alam maya. Laporan terkini oleh Reuters mencatatkan bahawa keuntungan hasil aktiviti perniagaan oleh Facebook mencecah AS$700 juta (RM2260.65 juta) bagi tahun kewangan 2009.

Selain itu, jelas sekali bahawa kita kini berada dalam era demokrasi dan sosial berbentuk digital. Sesiapa sahaja yang bijak mengurus kewujudannya dalam media sosial akan menjadi pemegang tampuk kuasa.

Kesimpulannya, media sosial kini sudah berjaya merasuk kehidupan kita. Malah ada yang terleka sehingga keutamaan tugas dan kewajipan lain terjejas akibat terminum racun Facebook. Bagaimana pula kadar ketagihan anda terhadap Facebook? Jika anda tidak senang duduk sepanjang hari selagi tidak dapat mengemas kini status di dinding umum, itu tandanya anda mungkin sudah tersihir dengan kuasa magis Facebook.

Sumber: http://mediasosial2012.blogspot.com/p/artikel.html

Top Call Center Technology Trend During 2017

Top Call Center Technology Trend During 2017

Technology plays a critical role in the call center’s ability to improve customer service. But with technology for the call center emerging at an exponential rate, it is critical to stay up to date on the latest offerings to ensure that your organization can retain a competitive edge. So what have been the biggest trends in call center technology for 2018? Let’s take a closer look below:

Natural Language Understanding Chatbots:

Natural Language Understanding (NLU) is the technology behind conversational customer service chatbots. NLU makes finding answers, staying informed and accomplishing everyday tasks effortless. The result is a better customer experience by removing the frustration of rigid automated interactions. Well-designed customer support chatbots empower customers, improve employee satisfaction and help companies deliver exceptional service while reducing costs.

Call Center Performance Analytics:

Call centers aggregate more customer data than any other department within your organization. But there’s a big difference between information and intelligence. Simply aggregating data will not give you the context you need to provide robust support. By integrating automated analytics tools, data analytics turns information into intelligence that can be acted upon, giving actionable information to ensure that call center agents can provide comprehensive customer service.

Social Media Customer Service:

Social media channels continue to grow at an astounding rate. As consumers flock to these sites, they are leaning on brands to provide customer support. With capabilities like live-streaming, savvy business are putting more resources into providing seamless, integrated omni-channel customer support including across social channels.

IVR Self-Service:

Self-service has also continued to boom in the beginning of 2018. Businesses with the greatest customer satisfaction rates are integrating automated self-service offerings like IVR and ITR, empowering customers to resolve their own issues without speaking to an call center agent. This has continued to extend out into proactive outreach as well.

Sourced by: https://www.aspect.com/solutions/call-center/call-center-trends-2017

Excellent Call Center Etiquette: 5 Essential Tips

Excellent Call Center Etiquette: 5 Essential Tips

Call center agents are often the first and only point of contact that your customers will have with your company. In many cases, it only takes one negative call center experience for a customer to decide that they don’t want to do business with you.

In order to attract and keep customers, call centers need to foster a culture of customer service, which starts with these 5 essential tips for excellent call center etiquette.

Body Language Counts – Even If Your Customers Can’t See You

Believe it or not, body language is an important part of proper call center etiquette. Even though your customer can’t see your expression or how you’re sitting, they can hear it.

If you’re working from home and sitting on the couch with your feet propped up, you’ll sound bored and uninterested. If you’re sitting up straight, you’ll sound like you’re ready and willing to assist with anything your customer needs.

Never Interrupt a Customer – Ever

If your call center is focused on customer support, chances are that you listen to countless complaints each day. As difficult as it might be, it is important to listen to the whole problem. Even if you end up passing the customer along to another agent or department that is better equipped to handle their particular issue, simply listening will help the customer feel valued.

Ask First, Then Act

Whether you need to transfer a customer or put them on hold, it is important that you remember to ask first.

Let’s say that you need to transfer a customer to another department, but you know you’ll need a few minutes to explain the situation to the next agent. All you have to say is: “It will take me a few minutes to make sure that John understands what you need, so is it okay if I put you on hold?” Most people will say yes, and your request will make them feel like they have a say in the situation.

Keep Your Customers Informed

One of the key performance indicators of customer support-focused call centers is first call resolution. But, sometimes, you can’t fix the problem right away.

If you know that you can’t resolve a customer’s problem during the call, it is important to be clear and specific about the next steps you’re going to take on their behalf. Tell the customer exactly what you are going to do, and how long it will take for their issue to be taken care of.

And don’t forget—always give yourself or your team more time than you think will be necessary. If you fix the problem is less time than you initially quote, you’ll have a loyal and happy customer. If it takes longer, the problems begin.

Know How to Handle Frustrated Customers

One of the biggest tests of call center etiquette is how you handle an angry customer. First, don’t tell the customer to calm down. In most cases, that’s only going to escalate the situation.

As a customer service representative, you should begin by speaking in a slightly louder voice. Your first words should be reassuring things like “How awful,” “I completely understand how you feel,” and “You’re right to be upset.” The customer will begin to feel understood, and they’ll know that you are their advocate.

Once you’ve diffused the situation, it is important to be as detailed and thorough as possible as you explain how you will resolve the customer’s concern.

Call Center Etiquette Tips

These best practices for call center etiquette can help both managers and agents improve customer experience. If you’re looking for additional resources on contact center etiquette, explore the articles below:

  • How to Improve Customer Satisfaction in a Call Center
  • Call Transfer: How it Can Help You Improve Customer Satisfaction
  • How to Use Call Recording to Boost Customer Satisfaction

Source by: https://www.avoxi.com/blog/5-essential-tips-for-top-notch-call-center-etiquette/

Apakah Anda juga Mengalami Konflik dan Stress Kerja? Cari Tahu Jawabannya Di sini!

Apakah Anda juga Mengalami Konflik dan Stress Kerja? Cari Tahu Jawabannya Di sini!

Pernahkah Anda penasaran apa Anda juga mengalami konflik dan stress kerja? Nyatanya konflik dan stress kerja dapat terjadi kepada siapa saja, termasuk Anda. Untuk mengetahuinya, yuk kenali seperti apa konflik dan stress kerja berikut ini!

Konflik dan Stress Kerja

Pencapaian tujuan perusahaan tidak lepas dari manusia yang berperan aktif dan dominan setiap kegiatan organisasi. Oleh karena itulah dibutuhkan pengelolaan agar sumber daya manusia (SDM) terhindar dari konflik dan stress kerja. Untuk dapat menyadari apakah Anda terlibat atau mengalami konflik dan stress kerja tersebut, mari lihat definisinya berikut ini:

1. Konflik Kerja

Konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah–masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Konflik biasanya timbul akibat adanya pandangan berbeda yang berpotensi menimbulkan pergesekan dan sakit hati. Konflik ini tak terkecuali terjadi di tempat kerja, di mana adanya ketergantungan dan interaksi antar individu dalam melaksanakan tugas. Artinya, konflik merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam perusahaan, namun dapat diselesaikan dan diredakan agar tidak mengganggu jalannya perusahaan.

Definisi konflik kerja menurut Husien (2010:39)”Konflik adalah sebagai sesuatu perselisihan atau perjuangan di antara dua pihak yang ditandai dengan menunjukkan permusuhan secara terbuka dan/atau mengganggu dengan sengaja pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawannya.

2. Stress Kerja

Sedangkan stress kerja merupakan suatu kondisi di mana tekanan, beban, konflik, keletihan, panik, kecemasan, kemurungan, dan hilangnya daya seorang karyawan. Stress kerja dapat menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis yang akan memengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi dari karyawan tersebut. Adapun definisi dari stress kerja menurut Triatna (2015:139)“Stres adalah suatu keadaan seseorang, di mana kondisi fisik dan/atau psikisnya terkena gangguan dari dalam atau luar dirinya sehingga mengakibatkan ketegangan dan menyebabkan munculnya perilaku tidak biasa (yang dikategorikan menyimpang) baik fisik, sosial, maupun psikis.

Konflik memang bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, termasuk konflik dalam keuangan. Dapat diambil kesimpulan bahwa stress kerja dan konflik kerja karyawan dapat berpengaruh pada kinerja karyawan. Padahal kinerja karyawan merupakan hal yang penting dalam pengembangan perusahaan. Uang menjadi salah satu hal yang paling sensitif dalam kehidupan karena sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi (dimiliki). Pengelolaan yang tidak baik akan menimbulkan konflik yang akan berdampak pada kehidupan kita. Itu lah mengapa perencanaan keuangan diperlukan. Untuk melakukannya, diperlukan cara yang benar agar kesalahan sekecil apapun dapat dihindari. Karena perencanaan keuangan tidak dilakukan dengan main-main.

Penyebab Konflik dan Stress Kerja

Kedua hal ini tentunya perlu diatasi. Namun untuk mengatasi konflik dan stress kerja, alangkah lebih baiknya jika mengetahui penyebabnya terlebih dahulu.

1. Penyebab Konflik Kerja

Konflik dalam sebuah tempat kerja bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya saja:

  1. Saling ketergantungan tugas di mana masing-masing subunit menginginkan adanya otonomi yang menyebabkan konflik dalam perusahaan.
  2. Adanya perbedaan tujuan dan prioritas.
  3. Adanya faktor birokratik yakni konflik antara fungsi atau wewenang garis dan staf.
  4. Kriteria penilaian prestasi yang saling bertentangan dan mempengaruhi peroleh imbalan masing-masing karyawan.
  5. Persaingan terhadap sumber daya yang langka sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
  6. Sikap menang kalah.

2. Penyebab Stress Kerja

Sedangkan terjadinya stress pada seseorang disebabkan oleh beberapa hal, di mana faktor-faktor penyebab stress ini disebut juga stressor. Gibson dalam Mohyi (2013:158) berpendapat bahwa sumber stress kerja yang berasal dari tempat kerja terbagi dalam 4 kategori yaitu sebagai berikut:

  1. Lingkungan fisik, meliputi cahaya, suara, suhu, ventilasi.
  2. Individu, yang meliputi konflik peran, peran ganda, beban kerja yang berlebihan, tidak ada kontrol, tanggung jawab, dan kondisi kerja.
  3. Kelompok yaitu hubungan yang kurang baik dengan lawan, bawahan, dan atasan.
  4. Organisasional yang meliputi desain struktur organisasi yang kurang bagus, tidak ada kebijaksanaan khusus.
Cara Mengelola Konflik dan Stress Kerja

1. Cara Mengelola Konflik Kerja

Menurut Gaol, cara mengelola konflik kerja terbagi menjadi 3, yakni sebagai berikut:

a. Metode Stimulasi Konflik

Stimulasi konflik digunakan untuk menimbulkan rangsangan karyawan karena karyawan pasif yang disebabkan oleh situasi di mana konflik terlalu rendah. Rintangan semacam ini harus diatasi oleh manajer untuk merangsang konflik yang produktif. Metode stimulasi konflik meliputi pemasukan atau  penempatan orang luar ke dalam kelompok, penyusunan kembali organisasi, penawaran bonus, pembayaran intensif dan penghargaan untuk mendorong persiapan, pemilihan manajer-manajer yang tepat, dan perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan.

 b. Metode Pengurangan Konflik

Metode pengurangan konflik mengurangi antagonisme yang timbul karena konflik. Jadi, metode-metode tersebut manajer konflik dengan jalan “mendinginkan situasi yang panas”. Tetapi, mereka sama sekali tidak mempersoalkan kausa yang menyebabkan timbulnya konflik orisinal tersebut. ini meliputi penggantian tujuan yang menimbulkan konflik sehingga lebih bisa diterima oleh kedua pihak dan mempersatukan kedua kelompok untuk menghadapi masalah yang sama.

c. Metode Penyelesaian Konflik

Metode ini dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut ini:

  1. Dominasi atau penekanan,
  2. Kompromi, dan
  3. Pemecahan masalah integratif.

2. Cara Mengelola Stress Kerja

Sedangkan stress kerja pun dapat diatasi dan umumnya ditawarkan atas dasar yang luas pada perusahaan. Program tersebut disebut manajemen stress, di mana dua program yang umum digunakan di dalamnya adalah program klinis dan program keorganisasian. Adapun pengertian dari kedua program tersebut adalah sebagai berikut:

a. Program Klinis

Program yang penanggulangannya didasarkan atas pendekatan medis tradisional. Beberapa unsur utamanya antara lain adalah diagnosis, pengobatan, penyaringan, dan pencegahan.

b. Program Keorganisasian

Program ini merupakan perluasan program klinis, di mana biasanya dilakukan karena adanya masalah yang ditemukan dalam sebuah perusahaan atau organisasi.

Kesimpulan: Konflik dan Stress Kerja Berpengaruh Terhadap Motivasi dan Kinerja Karyawan

Merangkum artikel ini, diperoleh pemahaman bahwa konflik dan stress kerja merupakan persoalan kerja yang tidak dapat dihindari. Selain itu, ternyata konflik dan stress kerja berpengaruh pada motivasi dan kinerja karyawan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah proses penanganan dan pengelolaan konflik dan stress kerja. Penanganan tersebut disebut Manajemen Konflik dan Stress Kerja.

Manajemen ini perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan mengingat konflik dan stress kerja selalu muncul dan berubah-ubah setiap saat. Dengan demikian, kami sangat menyarankan Anda untuk menyadari apabila merasa adanya konflik dan stress kerja pada diri atau perusahaan tempat Anda bekerja, segera minta perusahaan untuk turut membantu mengatasinya sebelum berlarut-larut.

Sumber artikel : https://www.finansialku.com/konflik-dan-stress-kerja/

Sumber gambar : Designed by Creativeart

Sosial Media Sebagai Alat Komunikasi

Sosial Media Sebagai Alat Komunikasi

Di era teknologi internet yang terus meningkat akhir-akhir ini membuat banyak pengguna telah memanfaatkan beberapa fitur dan salah satunya adalah media sosial. Tidak sedikit yang melakukan komunikasi tentang hal-hal atau isu yang sedang berkembang diantara sesama anggota dengan menggunakan media yang satu ini. Bahkan, tanpa disadari mereka akan digiring untuk menggunakan secara kreatif saat menceritakan berbagai pengalaman atas satu produk atau jasa yang digunakan. Sungguh, satu target pasar yang sangat potensial.

Sebagai bagian dari kampanye digital marketing, sosial media bagi pebisnis, tentu diharapkan memberikan hasil yang maksimal dari segala metode yang dilakukan. Salah satu caranya adalah haruslah memiliki rancangan atau rencana yang cukup jelas. Seperti mempertimbangkan apa yang menjadi tujuan bisnis sehingga saat melakukan kampanye pemasaran dengan menggunakan media ini tidak berubah dari jalur. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan seperti mengajukan pertanyaan apa yang diharapkan dari audiens dengan promosi melalui media sosial.

Atau, siapa target audiens yang akan dituju atau bisa juga dengan mengetahui kecenderungan pengguna dalam memanfaatkan media sosial. Nah, dengan berlandaskan atas beberapa pertanyaan diatas, akan didapat satu kesimpulan tentang teknik yang akan diterapkan nantinya. Sehingga komunikasi yang diharapkan terjadi dapat berlangsung dan memberikan hasil.

Salah satu teknik komunikasi yang biasa digunakan adalah menggunakan logo yang sangat jelas pada situs yang dimiliki. Berbagai data tambahan seperti nomor telepon, alamat operasional hingga staf marketing juga merupakan kemudahan yang ditawarkan kepada konsumen sehingga mereka dengan mudah memanfaatkan layanan yang ada.

Ketahui Platform Dari Sosial Media Sebagai Alat Komunikasi

Dengan banyaknya pilihan akan jenis media sosial, diharapkan pelaku bisnis tidak mati gaya dalam mempromosikan produk atau jasa. Semakin memahami bentuk atau platform yang akan digunakan, maka aktifitas promosi akan memberikan hasil. Hanya saja, itu semua akan menjadi sia-sia saat pemilik usaha tersebut cenderung asal-asalan alias tidak memahami secara pasti kecenderungan dari platform yang ada.

Nah, di dalam artikel ini akan dibahas salah satu media sosial yang kerap dijadikan sebagai alat komunikasi yaitu facebook. Fitur yang disediakan seperti Fan Page misalnya, mampu membantu pelaku usaha untuk langsung berinteraksi dengan para anggota yang sesuai dengan target market. Bahkan, mereka bisa menjadi seorang penggemar, kemudian memberikan penilaian di wall hingga mengupload foto dan pastinya mengundang suasana untuk berdiskusi.

Agar Fan Page tersebut memiliki “nyawa”, maka perlu melakukan up date secara teratur dengan memberikan informasi penting. Pastikan, setiap postingan yang ada lebih bervariasi seperti menambahkan konten multimedia atau video menarik. Intinya adalah mengundang orang untuk berinteraksi secara langsung dan siap merespon segalanya dalam waktu singkat. Satu komunikasi yang tidak terbatas bukan?

Sumber: http://latiefpakpahan.com/sosial-media-alat-komunikasi/

30 Tren Teknologi (2018 – 2028)

30 Tren Teknologi (2018 – 2028)

Perkembangan dunia teknologi informasi yang demikian pesat telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia. Seperti yang kita ketahui bahwa di era modern saat ini, peran teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah berpengaruh. Hal ini tidak lepas dari aktivitas kita yang kerap kali ditunjang dengan teknologi informasi itu sendiri yang mampu menjawab tuntutan pekerjaan yang lebih cepat, mudah, murah dan hemat waktu.

Dari hasil studi dan survei yang dilakukan pihak Wikibrands’, mereka membuat daftar teknologi terkini yang mempengaruhi budaya, pasar dan masyarakat paling banyak dalam dekade mendatang. Daftar tersebut dibuat dengan dengan mempertimbangkan 5 kriteria berikut:

  • Ukuran saat ini & yang diproyeksikan (dalam hal pendapatan $$$ langsung dan tidak langsung)
  • Rata-rata tingkat pertumbuhan segmen masa depan dan skala adopsi
  • Persepsi dampak yang diklaim di masa depan (melalui survei Wikibrand)
  • Current chatter value and buzz (melalui Google dan media sosial)
  • Efek dan interaksi dengan teknologi dan industri lain

Berikut daftar 30 tren teknologi teratas:

 

  1. Artificial Intelligence #AI /Machine Learning / Deep Learning
  2. Internet of Things #IOT / #IIOT & Sensors & Wearables
  3. Mobile & Social Internet — Advancements, Social Networks/Media, Search, Messenging and Livestreams
  4. Blockchain — Cryptocurrencies, Distributed Ledger Systems, DAOs, DApps
  5. Big Data — Apps, Infrastructure & Predictive Analytics
  6. Automation — Information, Task, Process, Machine, Decision & Action
  7. Robots incl. Drones & Autonomous Vehicles — Consumer/Commercial/Industrial Robots and Robotics
  8. Immersive Media — #VR/ #AR/ #MR/ 360°
  9. Mobile Technologies & Advancements — infrastructure, networks, standards, services & devices
  10. Cloud Computing — Software-as-Service (SaaS), Infrastructure-as-a-Servcie (IaaS), Platform-as-a-Service (PaaS) & MESH Apps
  11. 3D Printing — Additive Manufacturing and Rapid Prototyping
  12. CX — Customer Journey, Experience, Personalization & Commerce Tools
  13. EnergyTech — Efficiency, Storage & Decentralized Grid
  14. Cybersecurity incl. Adaptive Security — Security, Intelligence Detection, Remediation & Adaptation
  15. Voice Assistants Interfaces, Chatbots & Natural Language Processing
  16. Nanotechnology – Computing, Medicine, Machines + Smart Dust
  17. CollaborativeTech — Crowd, Sharing, Workplace & Open Source Platforms & Tools
  18. Health Tech — Advanced Genomics, Bionics & Health Care Tech.
  19. Human-Computer Interaction — Facial/Gesture Recognition, Biometrics, Gaze Tracking
  20. Geo-spatial Tech — GIS, GPS, Mapping & Remote Sensing, Scanning, Navigation
  21. Advanced Materials — Composites, Alloys, Polymers, Biomimicry, Nanomanufacturing
  22. New Touch Interfaces — Touch Screens, Haptics, 3D Touch, Paper, Feedback & Exoskeletons
  23. Wireless Power
  24. Clean Tech. — Bio-/Enviro-Materials + Solutions, Sustainability, Treatment & Efficiency
  25. Quantum Computing — + Exascale Computing
  26. Smart Cities — Infrastructure & Transport
  27. Edge/Fog Computing
  28. Faster, Better Internet — Broadband incl. Fiber, 5G, Li-Fi, LPN and LoRa
  29. Proximity Tech. — Beacons,RFID, Wi-Fi, Near-Field Communications & Geofencing
  30. New Screens — next evolution TVs, Digital Signage, OOH, MicroLEDS & Projections

Pihak Wikibrands’ berencana mengembangkan 30 daftar tersebut dan menggunakannya sebagai patokan dan dasar semua analisis masa depan dan pemikiran utama untuk menjembatani kesenjangan antara pemegang teknologi dan penggunanya untuk membuatnya bekerja.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti sekarang, kita harus “sadar teknologi” atau “melek teknologi”. Kemajuan yang sering diartikan sebagai modernisasi, menjanjikan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan, meningkatkan kesejahteraan material melalui teknologi dan meningkatkan efektivitas diri melalui penerapan teknologi berdasarkan pertimbangan kesadaran.

 

By RJ

Sumber:

https://medium.com/@seanmoffitt/the-top-30-emerging-technologies-2018-2028-eca0dfb0f43c

Sisi Gelap Twitter, Dunia Nan Pendek & Serba Cepat

Sisi Gelap Twitter, Dunia Nan Pendek & Serba Cepat

Berbicara soal kebaikan dan kegunaan Twitter jelas ada banyak yang bisa disebutkan dan 99% dari Anda juga menyadari hal itu. Jika masih belum menyadari dan merasakan manfaat serta kebaikan Twitter namun tetap menggunakan, mungkin saja sedang dihipnotis atau hanya menuruti wejangan dari Eyang Subur.

Lalu akan menjadi lain masalahnya untuk menyebutkan atau menyadari bahwa ada sisi gelap dari Twitter. Sebagian dari Anda juga akan sontak berteriak, ‘APA? TWITTER PUNYA SISI GELAP?! INI BECANDA KAN?!

Iya. Sebagaimana layaknya layanan umum lainnya, Twitter juga memiliki celah dan sebagian dari itu berwujud buruk.

Hasil dari beberapa riset kecil menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Twitter ternyata mudah percaya dengan sebuah tweet. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita bohong.

Banyak kasus yang telah terjadi sebenarnya dapat diambil hikmahnya terkait dengan level kepercayaan kita terhadap tweet. Tentu saja kita masih ingat dengan banyaknya berita palsu terutama saat terjadi bencana baik di dalam maupun luar negeri.

Atau berita tentang wafatnya seorang artis padahal hanya dirawat di rumah sakit. Dan berita-berita lainnya yang diciptakan untuk memuaskan hasrat ngerjain.

Efek yang dihasilkan dari berita palsu ini memang bermacam-macam. Berita kematian palsu efeknya mungkin tidak seberapa yaitu sekadar sakit hatinya fans dan keluarga, misalnya.

Namun efek dari berita palsu juga dapat mengakibatkan lenyapnya uang senilai USD 200 miliar Amerika dari Bursa Efek New York sebagaimana yang terjadi kemarin akibat berita palsu dari sebuah akun terverifikasi Associated Press lantaran dibajak.

Dampak dari mudahnya kita percaya pada satu tweet memang tidak secara langsung bersifat individual. Namun ada hal lain yang ruang lingkup dampaknya adalah perseorangan namun merata dan bukan sesuatu yang sepele.

Dulu, Twitter belum memiliki fitur realtime pada timeline baik via website maupun aplikasi 3rd party. Hal ini menghadirkan jeda dan pengguna harus melakukan refresh pada timeline untuk mendapatkan tweet terbaru.

Jeda yang hadir saat itu bukan semata-mata karena kemauan atau kontrol pengguna melainkan oleh karena desain dari Twitter sudah seperti itu. Namun jeda itu sudah tak ada lagi sejak API versi baru yang mampu streaming timeline secara cepat. Dan sejak saat itu, timeline seperti yang kita lihat saat ini datang secara realtime.

Apa yang Anda tweet pada detik itu juga akan muncul di timeline orang-orang yang mengikuti Anda. Tak ada jeda walau sedetik. Di sisi lain cepatnya informasi yang datang membuat kita menjadi tahu akan informasi baru dari berbagai sumber tanpa perlu menunggu, seperti pada portal berita misalnya.

Namun, informasi yang datang bertubi-tubi dengan berbagai macam topik juga menghadirkan perkara lain.

Di dunia yang serba cepat dan pendek ini, otak menjadi kehilangan kemampuan yang penting dan sejak dulu mampu menghadirkan banyak inovasi maupun penemuan. Dan hal tersebut adalah deep thought, pemikiran mendalam.

Sejak hadirnya internet sebenarnya kebiasaan otak kita sedikit ataupun banyak telah berubah, sebagaimana dituturkan oleh Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows.

Dari menyimpan banyak ilmu dalam otak menjadi mengandalkan Google dan Wikipedia sebagai gudang ilmu dan rujukan. Dan dari berpikir mendalam pasca membaca buku menjadi berselancar di antara tautan-tautan dalam browser dengan pemahaman ala kadarnya.

Era dan dunia Twitter semakin mengokohkan kebiasaan ini dengan sifatnya yang realtime dan pendek. Dua hal yang saling melengkapi dalam rangka menghilangkan dan menyingkirkan kebiasaan baik untuk otak dan ilmu pengetahuan.

Pendeknya tulisan membuat kita menjadi cepat menyimpulkan sesuatu sebagaimana menciptakannya. Sementara cepatnya informasi baru yang masuk dan tanpa jeda tidak memberikan kesempatan kepada otak untuk berpikir lebih dalam.

Twitter bukanlah satu-satunya penyebab. Karena ada banyak layanan lain yang juga memiliki peran yang kurang lebih sama, baik berupa forum, portal berita, maupun yang lain.

Twitter dan layanan lain memang mempunyai kemampuan luar biasa untuk dimanfaatkan untuk hal-hal baik. Dan sudah menjadi tugas pengguna untuk dapat memilah dan memanfaatkan kebaikan dan manfaat dari semua layanan tersebut dengan tetap berusaha sadar dan tidak terjebak dalam hal negatif yang dibawanya.

Sekarang, mari kita ngetweet!

https://inet.detik.com/cyberlife/d-2246109/sisi-gelap-twitter-dunia-nan-pendek–serba-cepat

Magic Quadrant for Data Science and Machine-Learning Platforms – Part 2

Magic Quadrant for Data Science and Machine-Learning Platforms – Part 2

Readers should know that:

  • Gartner invited a diverse mix of data science platform vendors to participate in the evaluation process for potential inclusion in this Magic Quadrant, as data scientists have different preferences for UIs and tools. Some prefer to code data science models in Python or R; others favor Scala or Apache Spark; some like to run data models in spreadsheets; others are more comfortable building models by creating visual pipelines via a point-and-click UI. Tool diversity is an important characteristic of this market.
  • The wide range of products available offers a breadth and depth of capability and varied approaches to developing and deploying models. It is therefore important to evaluate your specific needs when assessing vendors. A vendor in the Leaders quadrant, for example, may not be your best choice. For an extensive review of the functional capabilities of each platform, see “Critical Capabilities for Data Science and Machine-Learning Platforms.”
  • Open-source platforms are excluded from this Magic Quadrant if they have no vendor supporting them as commercially licensable products. Commercially licensed open-source platforms are included. We also recognize the growing trend for commercial platforms to use open-source libraries and content. Open-source solutions represent an opportunity to get started with data science and machine learning with little upfront investment (see Note 1).
  • Artificial intelligence (AI) is the subject of considerable hype, but cannot be ignored. Data science is undoubtedly a core discipline for the development of AI. Machine learning is a core enabler of AI, but not the whole story. Machine learning is about creating and training models; AI is about using models to infer conclusions under certain conditions. A self-driving car, for example, has machine-learning capability, but its AI requires much more than that.

The diversity of data science platforms largely reflects the diverse types of data scientist who use them. This Magic Quadrant is therefore aimed at a variety of audiences:

  • Line of business (LOB) data science teams. Typically, these are sponsored by their LOB’s executive and charged with addressing LOB-led initiatives in areas such as marketing, risk management and CRM. They focus on their own priorities. Levels of collaboration with other LOB data science teams vary.
  • Corporate data science teams. These have strong and broad executive sponsorship, and can take a cross-functional perspective from a position of enterprisewide visibility. In addition to supporting model building, they are often charged with defining and supporting an end-to-end process for building and deploying data science and machine-learning models. They often work in partnership with LOB data science teams in multitier organizations.
  • Adjacent, “maverick” data scientists. These are typically one-off scientists in various LOB units. They tend to work independently on “point” solutions and usually strongly favor open-source tools, such as Python, R and Apache Spark. They rarely collaborate much with other data scientists in their organization.
  • Holders of additional roles, such as citizen data scientist, data engineer and application developer. They need to understand the nature of the data science and machine-learning market, and how it differs from, but complements, the analytics and business intelligence (BI) market (see “Magic Quadrant for Analytics and Business Intelligence Platforms”).

Magic Quadrant

Figure 1. Magic Quadrant for Data Science and Machine-Learning Platforms

Sourced by: https://www.gartner.com/doc/reprints?id=1-4RNH03T&ct=180222&st=sb&utm_content=buffer21830&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer