Posisi Duduk Yang Benar, Agar Tulang Belakang Sehat

Posisi Duduk Yang Benar, Agar Tulang Belakang Sehat

Bekerja menjadi rutinitas utama yang pasti dilakukan dalam setiap harinya bisa dibilang dalam 1 minggu kita bisa menghabiskan 5/6 hari di kantor, dan dalam 1 hari kita bisa menghabiskan hampir 8 jam full time di dalam kantor, sehingga bisa terbilang keseharian yang kita lakukan lebih banyak didalam kantor, maka dari itu kenyamanan dalam bekerja menjadi hal utama yang selalu harus kita perhatikan, hal simple yang biasa kita sering lakukan dan harus di perhatikan dengan baik adalah posisi duduk, karena seringkali kita duduk senyaman hati dengan berbagai posisi tanpa memikirikan efek yang akan ditimbulkan, dan bahkan banyak yang mengeluh merasakan sakit pinggang, pegal dll, karena posisi duduk kita yang kurang baik, dan tidak di selingi olahraga.
dan hal ini pasti selalu dirasakan para agent call center yang harus setia menunggu dan berdiam diri di kursi untuk menghandel tlp terus menerus tanpa henti, sehingga gerakan duduk yang salah dapat menimbulkan penyakit pada tulang belakang yang apabila tidak ditangani sedini mungkin efek sampingnya baru akan terasa di masa yang akan datang. Salah posisi duduk bisa menyebabkan tubuh jadi sakit semua, atau juga punggung yang nyeri. Dan apabila Anda membiasakan diri duduk di posisi membungkuk, tubuh juga jadi tidak tegap dan postur tubuh berubah.
Berikut ini beberapa tips posisi duduk yang benar agar tulang belakang sehat :

1. Duduk tegak dengan punggung lurus dan bahu ke belakang
Jika bokong telah menyentuh bagian belakang kursi, misalnya kursi kantor, tandanya Anda telah duduk dengan benar. Normalnya, lengkungan pada tulang belakang akan tampak saat kita duduk. Letakan bantal kecil sebagai penyanggah untuk membuat posisi lengkungan tulang belakang Anda normal.
2. Tekuk lutut pada sudut yang benar
Pastikan posisi lutut lebih tinggi dari pinggul, agar posisi duduk Anda proporsional.
3. Hindari menyilangkan kaki
Biasakan kaki Anda berpijak pada palang kayu yang ada di bawah meja. Dengan berpijak, kaki akan berada pada posisi tegak dan membuat tubuh Anda otomatis berada pada posisi duduk yang benar.
4. Letakkan kursi dekat dengan meja
Semakin dekat dengan meja tempat Anda bekerja, semakin sedikit pula otot yang bekerja untuk menariknya. Oleh karena itu, pastikan tempat duduk Anda dekat dengan tempat Anda bekerja agar otot lebih rileks.
5. Istirahatkan lengan dan siku
Regangkan sesekali lengan dan siku Anda sehingga bahu akan terasa lebih rileks.
6. Jangan melintir punggung
Saat Anda akan mengambil barang dalam posisi duduk, putarlah seluruh tubuh untuk meraihnya. Ini juga berlaku saat Anda duduk di kursi kantor dan jenis kursi lain yang dapat diputar.

source by : http://rsjakarta.co.id/artikel-dokter/posisi-duduk-yang-benar-agar-tulang-belakang-sehat/

 

Beradu Cepat dengan Ambulans 112

Beradu Cepat dengan Ambulans 112

Sempat meragukan pelayanan gawat darurat milik Pemerintah, Denny Rusli justru berbalik kagum atas pelayanan ambulans Pemda DKI.

Pagi itu aktivitas Denny berjalan seperti biasa mulai dari mengantar anak sekolah hingga menuju kantor untuk bekerja seperti biasanya. Baru saja pulang dari sekolah anaknya, telepon bordering mengabarkan Bapak mertua yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Di rumah Bapak mertua hanya ada dua orang saudara perempuan yang sangat tergantung pada Denny. Rumah Denny  sendiri di Gunung Sahari berjarak sekitar 5-6 km dari rumah mertua di kawasan Karang Anyar, Sawah Besar dan butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba di sana.

 Denny mencoba tenang, mau tidak mau pekerjaan harus ditinggalkan sementara. Kalau Ia langsung pergi kesana, ia pun tidak dapat berbuat banyak. Pertolongan harus segera dicari ditengah kemacetan pagi ini karena lalu lintas orang-orang yang berangkat kerja. Ia pun mencoba menghubungi no 021-65303118  yang memang sejak dulu tersimpan di telepon genggamnya. Tidak banyak berharap, namun minimal, sudah berusaha mencari pertolongan pertama dari pihak medis, begitu pikir Denny.

 Denny tidak tahu ternyata Ia terhubung dengan Panggilan Gawat Darurat 112 Jakarta sebagai pool seluruh nomer emergency di Jakarta. Di ujung telepon, dalam waktu yang singkat petugas menerima dengan baik laporan Denny dan diminta menunggu saja di lokasi. Denny tidak berharap bantuan akan datang dalam waktu cepat namun Ia bergegas menyalakan motornya, melaju ke rumah mertua melintasi kemacetan Jakarta.

 Keluarganya menyadari di usia yang ke 80 dengan kesehatan yang tidak lagi prima karena stroke, Bapak mertua memang perlu pertolongan pertama jika terjadi sesuatu. Sayangnya, hal ini sempat terabaikan.

 Dalam kemacetan, Ia berpapasan sebuah mobil ambulans membunyikan sirene. Searah dengan perjalanan Denny sendiri. Namun karena lalu lintas yang ramai dan ambulans yang berjalan begitu cepat, Ia sama sekali tidak berpikir itu adalah ambulans yang beberapa menit lalu Ia hubungi.

 Denny tiba di jalan perumahan mertuanya dalam waktu sekitar 20 menit. Di depan gang, terparkir sebuah ambulans. “Wah, siapa lagi nih yang sakit” begitu pikir Denny. Ternyata petugas dan paramedis ambulans itulah yang sudah bekerja di rumah orang tuanya. “Cepat sekali mereka tiba, padahal saya menggunakan motor yang sudah menyusup di tengah kemacetan” lanjut Denny.

 Satu orang petugas ternyata sudah  ada di dalam rumah memberikan bantuan pertama. Satu orang lagi kemudian menyusul membawa oksigen dan peralatan yang sudah disiagakan di mobil. Tubuh Bapak mertua yang terbujur dipompa hingga 30 menit. Denny dan keluarga harap-harap cemas akan kondisi Bapak. Doa-doa pun dipanjatkan untuk memohon yang terbaik untuk Bapak.

 Denny mengamati, pertugas yang datang ini sangat profesional. Mereka bekerja dengan rapih dan sesuai standar. Denny sangat paham soal ini, karena ini pun berkecimpung di bisnis kesehatann.

 Setelah sekitar satu jam, petugas menyatakan  Bapak mertua tidak tertolong. Suasana tiba-tiba hening, namun Denny dan saudara-saudaranya tetap bersyukur setidaknya mereka sudah berbuat semaksimal mungkin. Petugas 112 meminta Denny mencari dokter untuk membuat pernyataan kematian, karena mereka sendiri tidak memiliki wewenang untuk itu.

 Di akhir pekerjaannya, petugas 112 pun pamit. Tidak serupiah pun dibebankan ke keluarga Denny. Padahal Denny tahu, perlengkapan yang digunakan tidak murah harganya. Diberi tips pun mereka tidak berkenan. Sungguh sebuah pengabdian.

Sepenggal Cerita Tentang TransJ vs Abandon Call Atau Drop Call?

Sepenggal Cerita Tentang TransJ vs Abandon Call Atau Drop Call?

Call Center Series 101:

  Pagi ini sudah bertekad untuk mencoba jalur TransJakarta  dari Stasiun Manggarai – Blok M.  Beberapa minggu ini sudah mengamati dan yakin bahwa jalur ini akan lebih baik dibanding lewat jalur lain sehingga sejak dari rumah sudah mempersiapkan diri dengan memakai flat shoes.

Singkat cerita, sampai stasiun Manggarai biasanya lanjut transit menuju stasiun Tebet tapi kali ini langsung keluar dan menuju Bus TransJakarta warna biru yang sudah siap depan stasiun.  Antrian lumayan panjang dan saya di antrian paling belakang tapi bangku kosong masih cukup tersedia, jadi dalam hati pasti masih dapatlah tempat duduk jadi bisa duduk manis sambil baca-baca berita hot hari ini atau sekedar kepoin social media temen2. Seperti pepatah bilang untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak maka itulah yang terjadi, sampai diatas petugas menanyakan tiket, saya tunjukkan kartu flash tapi ternyata gak bisa pakai flash tapi harus beli cash di counternya khusus sebelum naik. Dan…. terpaksa saya harus mengulang antrian dari awal setelah membeli tiket secara cash.

Trus….apa hubungannya ngantri TransJ dengan Abandon call atau Drop Call  di call center? Ya… harus ada dong… , ngapain di ceritain kalau gak ada.

Nah…sebelum kita membedah dari sisi percall centeran, saya tantang para pelaku contact center untuk menjawab apakah ini lebih mendekati analogi abandon call atau drop call?

Let’s check it out in next series ya untuk pembahasan ilmiahnya menurut ilmu percallcenteran. Don’t missed it!

 

Gedung Aquarius 55-2017, 05:05

~eNTe~

Semangat Tanpa Pamrih PMI Surabaya

Semangat Tanpa Pamrih PMI Surabaya

Dari halaman muka, rumah tua itu terlihat sunyi. Hanya ada satu buah mobil yang parkir. Rumah berarsitektur Belanda itu sama sekali tidak mencerminkan kesibukan penghuninya. Ketika memasuki pintu samping baru terasa detak nadi bangunan ini. Ternyata, ada beberapa ruangan di bagian belakang rumah utama itu. Ruangan pertama difungsikan sebagai ruangan kerja utama. Ruangan di sebelahnya difungsikan untuk menyimpan peralatan. Di bagian terpisah, ada bangunan baru berlantai dua dengan aula yang cukup luas. Dua ambulans terpakir tepat di bawah bangunan bertingkat itu. Beberapa sepeda motor menunjukkan mobilitas tinggi para penghuninya.

Di ruangan utama, sekumpulan anak-anak muda berseragam senada merah putih duduk mendiskusikan sesuatu. Semangat dan optimisme terpancar di wajah mereka. Di sudut lain, beberapa orang sibuk dengan seperangkat alat komunikasi.  Deretan obat-obatan tersusun rapih pada lemari di pojok ruangan. Papan tulis besar di tengah ruangan ditempeli peta kota Surabaya, jumlah dan jenis kasus yang sudah ditangani hingga beberapa rencana organisasi ke depannya. Ternyata mereka adalah bagian dari Tim Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya yang terintegrasi dengan di Command Center 112 Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Meski dari luar kelihatannya sepi, aktivitas ruangan itu justru bergerak terus selama 24 jam.

Armada PMI Surabaya

“Dari dulu kami memang sudah bersinergi dengan Pemkot Surabaya untuk penanganan bencana” ujar Sugeng Wahyu, koordinator PMI Surabaya dengan senyum. Namun sejak 112 resmi beroperasi, sinergi ini menjadi lebih kuat karena keberadaan PMI menjadi satu komponen yang wajib dalam setiap penanganan kasus emergency bukan hanya soal bencana. “SOP kami pun menyebutkan dalam setiap kasus yang dilaporkan melalui 112, harus diterjunkan rata-rata enam orang personil PMI di lapangan” lanjut Sugeng.

Bersama Tim PMI Surabaya

Setahun terakhir, telah banyak cerita yang relawan PMI dan Tim 112 lalui. Dengan bersemangat Sugeng mengisahkan, salah satu pengalaman paling mendebarkan adalah ketika mereka harus mengevakuasi jenazah korban yang tersengat aliran listrik di atap sebuah rumah. Keluarga dan masyarakat sekitar ngeri untuk menurunkan jenazah, karena bisa saja bukannya menolong malah menambah korban baru. Sekitar satu jam, jenazah tergeletak di lokasi musibah. Keluarga korban histeris, urusan kecil membetulkan genteng ternyata merenggut nyawa salah satu kerabat mereka. Ketika para anggota keluarga bingung mencari pertolongan, salah seorang tetangga korban menghubungi 112. Dalam hitungan kurang dari 15 menit Tim 112 lengkap dengan personil PMI tiba di lokasi.

Tantangan cukup berat bagi tim evakuasi, mengingat jaringan listrik di daerah itu memang cenderung kurang rapih. Tim 112 bahu membahu melakukan evakuasi dan relawan PMI mendapat tugas cukup berat untuk mengangkat jenazah. Posisi jenazah yang saat itu masih seperti sedang membetulkan atap rumah, membuat para relawan PMI ikut tersentuh. Sulit rasanya membayangkan perasaan keluarga korban yang menunggu dengan penuh kecemasan.  Akhirnya berkat kerjasama seluruh tim diikuti keikhlasan dan ketulusan semua selesai dengan baik.

Dalam kasus lain, relawan PMI pernah menolong seorang Bapak yang terkena serangan jantung saat  berkendara. Tiba-tiba saja mobil yang dikemudikannya menabrak pengendara motor di sebuah persimpangan jalan yang cukup padat. Untungnya seorang pengguna jalan berinisiatif menelpon 112 setelah tidak ada respon dari dalam mobil tersebut. Sesampai di lokasi, Tim 112 memecahkan jendela mobil dan PMI memberikan pertolongan pertama pada korban.

Masih banyak deretan peristiwa lain yang berkesan bagi para awak PMI. Dari musibah kebakaran besar hingga laporan orang yang jatuh ke sumur seluruhnya melibatkan PMI. Membangun sinergi dengan seluruh Tim 112 pada awalnya merupakan tantangan tersendiri. Setelah setahun berjalan, inilah wujud komitmen Pemkot Surabaya bagi keselamatan warganya. Perhatian Pemkot Surabaya pada warganya memang tidak main-main.

Kini, secara rata-rata setiap hari setidaknya ada tiga kasus emergency yang ditangani oleh PMI Kota Surabaya. Kasusnya pun mulai beragam, dari kecelakaan lalu lintas, kebencanaan bahkan diikutsertakan dalam kegiatan umum seperti konser musik, demonstrasi dan lain-lain, sebagai bentuk preventif jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tahun-tahun sebelumnya kasus kebakaran mendominasi, bisa dibilang salah satu penyebabnya adalah suhu udara di Surabaya yang secara rata-rat cenderung lebih panas dibanding daerah lain mudah memicu terjadinya kebakaran. “ Tapi, uniknya, di salah satu wilayah di Surabaya, kebakaran jutsru dipicu dari kebiasaan buruk masyarakatnya menggunakan perangkat listrik” ujar Sugeng sembari menunjukkan peta lokasi kebakaran itu. Kini seiring dengan makin baiknya edukasi yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya ke wilayah-wilayah yang rawan kebakaran tersebut, jumlah kebakaran makin menurun. Namun tidak berarti tugas untuk siap siaga selama 24 jam juga ikut menurun, tegas Sugeng.

Semua kasus yang melibatkan  relawan PMI unik dengan bermacam tantangan yang terkadang tidak selalu ada dalam buku teori. Oleh karena itulah, kematangan personil dilihat dari jam terbang pengabdiannya bukan hanya berapa banyak pelatihan yang mereka ikuti. Tentu tetap dengan rutin memberikan pelatihan dan pembekalan kepada para relawannya terutama terkait standar pertolongan dan penyelamatan jiwa.  Saat ini personil PMI Kota Surabaya terdiri dari staf organik dan relawan yang 90% diantaranya adalah mahasiswa 11 perguruan tinggi di Surabaya. Meski tidak dibayar, peminat menjadi relawan selalu tinggi. Bagi mereka, ada kebanggaan tersendiri dapat melakukan tugas mulia ini. Para relawan juga datang dari latar belakang pendidikan yang beragam, tidak harus berlatar belakang medis atau kesehatan untuk membantu sesama. Niatnya cukup hanya satu menjadi bagian dari kerja kemanusiaan.

Bagi Sugeng dan teman-temannya, keberadaan mereka dalam Tim 112 Pemkot Surabaya, membuat pekerjaan ini terasa lebih bermakna. Menjadi salah satu tulang punggung 112  adalah sebuah penghargaan bagi PMI. Musibah bisa terjadi kapan saja, tanpa kita pernah tahu. Ada bahagia yang tidak terlukiskan jika berhasil memberi pertolongan pertama pada setiap korban. Meski tidak jarang, degup jantung para relawan ikut berdetak lebih kencang.  Telat sedikit saja, ada jiwa yang melayang.

Akhirnya gedung tua di Jalan Sumatera, itu menjadi saksi, bahwa PMI Kota Surabaya berjanji untuk terus mengabdi membantu sesama yang tertimpa musibah.

Tetap Mengabdi di Hidup Kedua

Tetap Mengabdi di Hidup Kedua

Masih dini hari, ketika Ibu Siandra merasakan hawa panas menyergap memasuki lantai 3 ruko yang ditempatinya. Cepat-cepat ia turun ke lantai 2, ternyata ruangan itu sudah penuh dengan asap tanpa Ia tahu darimana sumber apinya. Dalam keadaan panik, Ia masih sempat berpikir untuk menerobos asap, turun ke lantai satu dan segera menyelamatkan diri. Namun suaminya; Pak Supono masih dalam masa pemulihan akibat serangan stroke beberapa waktu sebelumnya. Tidak mungkin rasanya Ia berlari sendirian menembus asap dan meninggalkan suaminya yang belum mampu berjalan dengan kokoh.

Asap kian menebal, rasa cemas seketika menyergap. Satu-satunya cara untuk menghalangi asap masuk ke lantai 3 adalah menutup pintu penghubungnya dengan lantai 2. Jam di dinding masih menunjukkan pukul 03.15 pagi hari. Dengan nafas yang bergetar cemas, Ia mencoba menghubungi beberapa kerabat. Di usia yang sudah melewati angka 60, mereka memang hanya tinggal berdua. Sayang tak ada kerabat yang mengangkat telponnya, nomer darurat pun tak satu pun yang dihapalnya.

Ruko yang terbakar

Seketika Siandra berlari ke balkon, dilihatnya sekeliling masih sepi. Ia berusaha menjerit meminta tolong semampunya. Sunyi, tak ada sahutan. Lingkungan tempat tinggalnya sebagian besar adalah ruko yang hanya ditempati pada jam kerja.  Asap mulai menyusup masuk ke lantai 3, Siandra dan suaminya akhirnya terpaku di balkon. Ditutupnya pintu kaca penghubung balkon dan ruang tengah. Tidak dapat dilukiskan bagaimana perasaan mereka saat itu. Kalut, cemas dan bingung  yang akhirnya hanya menyisakan doa. Suaminya hanya duduk terdiam, karena shock ia pun merasa penyakitnya kambuh.

Tiba-tiba saja terpikir untuk menyelamatkan beberapa surat berharga yang disimpan dalam sebuah tas. Tas itu dilemparkannya begitu saja ke halaman ruko sebelah.  Setidakanya, masih ada yang masih bisa diamankan, begitu pikir Siandra. Sambil terus berdoa dan berharap ada orang yang melintas dan melihat mereka. Keduanya membiarkan asap terus memenuhi lantai 3, sambil terus memanjatkan doa. Doa yang sempat terpikir akan menjadi doa yang terakhir. “Saya pasrah, saya kira inilah akhir hidup saya”, katanya bercerita.

Sayup sayup dari sebuah masjid di kejauhan terdengar suara orang yang mulai mengaji. Ada rasa senang, artinya sudah ada orang yang terjaga dari tidurnya. Benar saja, tiba-tiba dari sudut jalanan muncul seorang laki-laki, Ia menengok k arah Siandra dan suaminya seolah memberi isyarat untuk bersabar dan menunggu. Tak beberapa lama ia kembali lagi dengan tangga, Sayangnya, Siandra dan suaminya tidak dapat turun melalui tangga yang terlampau pendek itu.

Pagi hampir menjelang, dalam beberapa menit orang-orang mulai berkumpul, mereka memberikan pertolongan seadanya, namun itu ternyata tidak banyak membantu, karena api kian membesar. Beberapa diantaranya seperti kasak kusuk mencari bantuan pemadam kebakaran. Harapan hidup keduanya seketika memuncak kembali.

Tanpa mereka tahu, di sudut jalan seorang pedagang bunga hias menelepon Command Center 112. Ternyata Ibu Nini, si pedagang sudah mendengar teriakan minta tolong sejak beberapa menit sebelumnya. Sama seperti korban, awalnya Bu Nini pun tidak tahu harus menghubungi siapa. Beruntung putranya yang baru duduk di SD ingat pernah ada sosialiasai tentang Command Center 112 dari Pemerintah Kota Surabaya.

Hanya dalam hitungan enam menit, Tim Rescue tiba di lokasi. Pintu bawah terlihat terkunci, korban terjebak di lantai 3. Tim lalu melakukan pembongkaran paksa pintu utama ruko kemudian menyisir ke lantai 2 dan langsung melakukan pemadaman. Dengan armada yang terdiri dari pemadam kebakaran, PLN, PMI dan Kepolisian, mereka berhasil memadamkan api, mematikan sambungan listrik dan menyelamatkan Ibu Siandra dan Pak Supono dalam hitungan kurang dari 10 menit.

Siandra sama sekali tak menduga, ternyata pertolongan Tuhan begitu dekat. Beberapa menit lalu, nyawanya dan suaminya terasa sudah di ujung tanduk, namun Tim 112 yang datang seketika menjadi rasa cemas yang begitu besar, lenyap seketika. Rasa lega dan syukur berulang-ulang diucapkan sepasang suami istri itu.

Tim 112  membawa keduanya ke ambulans, mengecek kondisi kesehatan mereka untuk meyakinkan bahwa keduanya baik-baik saja. Sesuai standar operasi, Tim 112 mewajibkan ada pihak keluarga yang menjemput korban sementara petugas membenahi lokasi kejadian.

***

Sisa Kebakaran

Dua minggu setelah peristiwa itu, ruangan luas di lantai 1 dan 2 ruko itu, masih sepi tanpa kegiatan. Sisa-sisa kebakaran masih nampak jelas; dinding kehitaman, plafon yang nyaris runtuh dan lantai yang masih penuh debu. Tidak seperti dulu, seminggu dua tiga kali Siandra mengisinya dengan kegiatan pelayanan bagi warga miskin.

Masih teringat  olehnya di sebuah pagi beberapa tahun lalu, di depan ruko duduk seorang pemulung lengkap dengan gerobaknya. Dari balik pintu kaca, hatinya tersentuh, dengan belas kasih ia menawarkan sarapan pagi pada sang pemulung. Pemulung itu menerima dengan hati bahagia, tanpa sadar mereka akhirnya terlibat obrolan panjang. Ternyata pertemuan singkat itu menjadi sebuah titik balik bagi Siandra. Beberapa hari kemudian, pemulung tersebut kembali lagi dan kali ini tidak sendiri tetapi bersama beberapa warga miskin yang bertempat tinggal tidak jauh dari kawasan Genteng.

Memang sudah beberapa tahun terakhir aktivitas bisnisnya di ruko itu mati. Dulu, jasa konsultan pendidikan yang mereka jalani cukup maju, namun kondisi persaingan bisnis dan usia sudah tidak muda lagi membuat keduanya memilih mundur dari usaha itu. Beruntung, si pemilik ruko tidak membebankan biaya sewa karena akhirnya ruko itu diperuntukkan untuk pelayanan bagi warga miskin. Orang-orang itulah yang membuat hidup Siandra menjadi lebih berarti

Peristiwa kebakaran itu seperti hidup kedua bagi Siandra dan suaminya. Selepas musibah sungguh mereka tidak berharap apa-apa selain ingin segera berbenah dan meneruskan pekerjaan mulianya. Mengabdi dan membantu sesama.  Terima kasih 112.

Surabaya, Melayani dengan Hati

Surabaya, Melayani dengan Hati

Sabtu pagi di bulan Oktober di Gedung Siola, Surabaya. Tidak seperti hari libur di kantor lain, aktivitas PNS di gedung itu tampak seperti hari biasa.  Sebanyak 14 orang dari shift 1 siap di di depan pesawat telepon dan merespon laporan darurat warga Surabaya.  Selain terdiri dari operator penerima telepon, setiap regu per shift dilengkapi perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diantaranya Dinas Kebakaran, Satpol PP, Dinas PU, Dinas Perhubungan, dan Perlindungan Masyarakat (Linmas).
Ada tiga layar besar di ruang Command Center 112 yang sering juga disebut Ruang Pusat Kendali itu. Satu layar tersusun dari puluhan monitor televisi. Layar pertama berisi peta kota Surabaya dengan titik-titik pemantauan laporan, layar kedua memuat pantauan CCTV di beberapa jalan-jalan utama dan layar terakhir menayangkan kondisi di 56 pompa dan pintu air yang bergantian dengan peta kondisi cuaca. Maklumlah, saat itu tengah musim hujan. Total ada lebih dari 6000 CCTV yang tersebar di seluruh penjuru Surabaya dan semuanya terpantau melalui ruangan canggih ini.

“Kami berusaha agar waiting list tidak lebih dari 2 menit per panggilan”, kata Ibu Chandra Oratmangun, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya.  Untuk setiap kasus, diupayakan tindak lanjutnya (response time) tidak lebih dari 15 menit. Sebagai contoh, ada 5 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan 15 posko pemadam kebakaran yang tersebar di seluruh penjuru kota Surabaya yang siap bergerak jika terjadi kebakaran.  Selama Agustus-Oktober 2016 ada  112 laporan kasus kebakaran dan separuh diantaranya memiliki response time lebih kurang 10 menit saja.

Ruangan besar di gedung yang tepat berada di pusat Kota Surabaya ini sudah beroperasi sejak pertengahan 2016. Dulunya -bukan warga Surabaya tidak bisa mengadu- namun kanal pengaduannya belum terintegrasi. Masih banyak nomor yang harus dihapal; nomor polisi, nomor pemadam kebakaran hingga nomor bantuan ambulance. Inisiatif menyatukan seluruh kanal pengaduan dalam satu nomor, membuat cukup 112 yang perlu diingat oleh seluruh warga Surabaya untuk seluruh bantuan darurat. Sejak 112 digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, Surabaya bersama Jakarta memang potong kompas dengan lebih dulu menggunakan nomor ini, walau keduanya tidak termasuk 10 daerah Pilot Project 112.

Mau lapor apa? Kebakaran? Kecelakaan? Begal? Banjir? Kekerasaan pada anak? Tenang, semua warga akan direspon dengan baik oleh 112. Paling penting lagi, setiap laporan pasti ditindaklanjuti. Itu janji Ibu Wali, kata Pak Agus Maryono Koordinator Command Center 112 Surabaya.

Siang itu, aktivitas Pak Agus berjalan seperti biasanya. Ia berkeliling Surabaya memonitor beberapa lokasi. Sesekali ia berbicara lewat handy talkie (HT), nampaknya ia tengah berkoordinasi  dengan Tim 112 di lokasi lain untuk menangani laporan-laporan yang masuk. Dari ujung HT, tiba-tiba terdengar suara Ibu Walikota yang memerintahkan Tim 112 untuk  memindahkan anak-anak yang tengah mandi di pinggir kali. Alasannya;  debit dan ketinggian air lagi tinggi, anak-anak harus segera disuruh pulang, agar tidak terjadi hal yang membahayakan.

Bukan hal aneh, jika Walikota turun langsung meski “cuma” mengawasi anak-anak.  Tidak boleh ada hal yang luput kalau urusan melayani masyarakat, itu prinsipnya. Bukan cuma laporan menyangkut jiwa manusia, bahkan laporan ada seekor sapi yang tercebur masuk ke kali pun direspon dengan cepat. Tidak itu saja, jika ada musibah yang menimpa warganya di luar Surabaya, Pemda Surabaya tidak tanggung-tanggung ikut membantu. “Contohnya beberapa waktu lalu, ada warga Surabaya yang tertabrak kereta di Lamongan, urusan rumah sakit, pengembalian jenazah ke rumah duka di Surabaya hingga pemakaman, seluruhnya dilakukan oleh Tim 112”, lanjut Pak Agus.  Bahkan ketika terjadi musibah kecelakaan pesawat dari Surabaya menuju Singapura yang ditumpangi banyak penduduk Surabaya, Pemerintah Surabaya berusaha meringankan beban korban melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk menjaga keamanan rumah korban yang lama ditinggalkan.

Namun, secanggih apapun teknologi yang digunakan dan sebaik apapun manajemen, ada keunggulan lain yang dimilliki oleh Surabaya. Teknologi bisa ditiru, manajemen bisa dicontoh, tapi pelayanan yang datang dari hati belum tentu bisa diikuti.  Memang butuh waktu, untuk merubah mindset birokrat yang terbiasa dilayani menjadi melayani. Bagi mereka yang siang itu ada di Siola, ini bukan hanya tuntutan tugas dan menggugurkan kewajiban karena mereka dibayar untuk itu, tetapi melayani sudah menjadi jiwa dari pekerjaan itu sendiri.

Kunci lain yang tidak kalah penting adalah koordinasi. Tidak ada yang namanya “ego sektoral” di Surabaya. “Mana bisa semua berjalan baik, jika masing-masing SKPD mementingkan urusannya saja” kata Pak Agus. Di Surabaya, kami sudah terbiasa bekerja tanpa batasan ini kewajiban siapa, itu tanggung jawab siapa. Apalagi semua yang dilaporkan melalui 112 adalah kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat, lanjutnya. Namun, karena jiwa melayani sudah tertanam di hati, apapun harus dilakukan demi memberikan yang terbaik pada masyarakat Kota Surabaya.

‘Memang, tantangan kami masih banyak”, lanjut Ibu Chandra. Salah satunya masih ada panggilan iseng, yang tidak melaporkan apa-apa. Di sisi lain, infrastruktur jaringan dan teknologi yang digunakan masih harus terus diperkuat. Namun bagi Pemda Surabaya, tidak ada waktu menunggu hingga semua sempurna untuk melayani masyarakat. Justru, dengan pengaplikasian 112 yang lebih dulu ini, menjadi wadah belajar bagi Surabaya dalam melayani masyarakat.

Hari sudah beranjak sore, kesibukan di Gedung Siola belum surut. Regu kedua pada shift kedua telah siap menggantikan regu pertama yang baru saja selesai bertugas. Lelah jelas terpancar dari wajah-wajah mereka, selalu ada semangat untuk kembali berkontribusi esok hari.

Improve Terus!! QA Pun Bicara

Improve Terus!! QA Pun Bicara

 

 

 

 

 

JAKARTA – Peran Quality Assurance/Quality Monitoring Contact Center adalah memastikan suatu pelayanan diberikan sesuai standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Sebagian staff contact center berharap untuk memiliki karir sebagai Quality Assurance pada tahap selanjutnya, walaupun sebagian lain menjadikan posisi QA sebagai posisi yang kurang nyaman.

Seorang staf QA bisa diibaratkan sebagai seorang Dokter yang harus dapat mengenali gejala,  mendiagnosa, merawat dan menyarankan pengobatan yang tepat  Demikian juga staf QA  mempunyai  sense jika terjadi gejala atau  potensi terjadinya resiko , mendiagnosa apa yang kurang dalam layanan, memperbaiki  dan membuat program pembinaan yang tepat.

08 Maret 2017, bertempat di kantor 168Solution di bilangan Pondok Indah – Jakarta Selatan, 168Solution menyelenggarakan kegiatan sharing session bagi QA/QM Contact Center. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari beberapa perusahan dengan total sebanyak delapan belas orang berlatar belakang QA/QM sampai dengan HRD Training.

Acara dimulai lebih awal dari rencana sebelumnya pkl 09.00 WIB melihat antusias peserta yang telah hadir sejak pkl 08.00 pagi. Mengawali sesi sharing, Ibu Lusila Retno Utami (senior trainer 168Solution) memperkenalkan diri sebagai nara sumber diikuti oleh Ibu Elvia dari Bank Danamon kemudian diikuti oleh peserta lainnya yang hadir.

Ibu Sylvia, salah satu peserta dari PT Jaring Sinergi Mandiri (JSM), berkesempatan menjadi yang pertama sharing tentang kendala yang dihadapi timnya, dimana setiap staf QM harus fokus dan menguasai Product Knowledge dan memahami prosedur pihak klien yang beragam. Disela sesi sharing, peserta diberikan kesempatan bertanya dan berdiskusi seputar kegiatan Quality Monitoring di Contact Center.

Bagaimanapun tanggung jawab pekerjaan seorang QA/QM sangat besar dalam menjamin kualitas pelayanan. Perlu adanya sharing mengenai tips dan kreatifitas yang dapat di aplikasikan ke dalam operasional untuk dapat lebih memotivasi staff contact center dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Seluruh peserta berharap agar kegiatan ini rutin diagendakan minimal sebulan sekali sebagai ajang tukar informasi dan ajang jejaring (networking). Sharing session berikutnya, kamu mau berbagi? (RJ)

 

 

 

 

 

Menyapa Pelanggan Dengan Tulus

Menyapa Pelanggan Dengan Tulus

Pada suatu kesempatan saya sedang berjalan di sebuah mall. Saat melewati toko asesoris hand phone, sayup-sayup terdengar suara menawarkan produknya…”silahkan pak dilihat dulu cover handphone-nya”. Saya terus berjalan sambil melihat dari sudut mata saya bahwa yang tadi menawarkan produk berbicara sambil membaca sesuatu di handphone-nya. Selang 20 meter kemudian saya melewati counter-counterpenjaja DVD bajakan. Ucapan yang sama terdengar jelas dari 2 – 3 orang penjaga counter…. “silahkan pak film terbarunya”.  Saya tetap berjalan dengan tidak mengindahkan mereka dan mencoba mencuri pandang kepada si penjaja tersebut dan ternyata yang menawarkan produk ke saya sedang menonton film.

Lalu, pada kesempatan lain, saya berkunjung ke sebuah bank swasta di Jakarta. Ketika masuk lobby, dari jarak kira-kira dua meter terlihat seorang satpam berdiri sambil tersenyum ke arah saya. Pak satpam pun langsung menyapa dengan sapaan yang tulus, “selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu ?”. Beliau menyapa sambil menawarkan bantuan. Beliau melakukan ini dengan TULUS. Beliau melakukan ini dengan sangat konsisten. Tidak mudah memang menerapkan hal demikian. Memberikan greeting yang tulus kepada semua pelanggan dari pagi hingga petang

Namun greeting yang tulus menurut saya menjadi suatu hal yang sangat penting. Greeting yang tulus bukan hanya diperagakan melalui suara yang lembut. Bukan cuma sikap tubuh yang agak membungkuk melayani pelanggan. Bukan…bukan itu. Greeting yang tulus adalah kesungguhan hati yang diterjemahkan melalui sikap tubuh yang benar-benar menghormati terhadap pelanggan. Menganggap pelanggan bukan hanya pelanggan namun sebagai bagian dari keberhasilan perusahaan. Greeting yang tulus adalah keberanian untuk menempatkan prioritas bagi pelanggan yang dilayani. Anda bisa membandingkan dua cerita di atas, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang bukan.

Jadi paling tidak ada 3 (tiga) ciri yang bisa kita ungkap untuk membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak tulus.

  • Yang pertama adalah tatapan mata. Seorang customer service yang baik selalu menatap pelanggannya saat menyapa.
  • Yang kedua adalah sikap tubuh atau gesturnya. Sikap atau gestur terlihat welcome dan keinginan untuk membantu.
  • Yang ketiga adalah pikirannya. Seorang customer service yang baik sadar betul bahwa saat ini, ditempat ini, dia sedang melayani pelanggan dan tidak memikirkan hal-hal lain kecuali keinginannya untuk melayani pelanggan.

     Ketiga unsur itulah yang menurut saya ciri dari greeting yang tulus dari seorang customer service. Jadi saat customer service memberikangreeting, maka tatapan, gestur tubuh dan pikirannya akan terfokus kepada pelangan yang ada dihadapannya. Bila ini terjadi, suatu saat anda menghadapi customer service seperti ini, anda akan merasakan getarannya dan getarannya terasa berbeda dari customer service yang menyapa anda dengan tulus persis seperti saya berhadapan dengan satpam pada cerita diatas.

Begitulah cerita mengenai ketulusan dalam menyapa pelanggan. Mengapa hal ini saya bahas karena greeting/menyapa pelanggan merupakan bagian dari moment of truthMoment of truth akan menentukan sikap pelanggan terhadap perusahaan. Bila di awal sudah rusak, maka jangan berharap mendapatkan penilain yang baik dari pelanggan. Itu sebabnya di beberapa perusahaan telah menerapkan greeting atau menyapa pelanggan menjadi aspek terpenting dalam rangkaian penilaian standar interaksi (contact standard).

Sumber : Erwin Yahya|@erwinsnada –Senior Trainer 

Copyright © 2015 168Solution

Cara Gampang Menyenangkan Hati Pelanggan

Cara Gampang Menyenangkan Hati Pelanggan

Suatu pagi saya bersama istri dan anak saya yang waktu itu baru berusia 1,5 tahun menikmati jalan-jalan menikmati udara bersih pagi itu. Jalan-jalan kami terhenti ketika melihat gerobak bubur yang sangat ramai dikelilingi orang-orang yang membeli. Seperti layaknya pencinta kuliner, saya berfikir kalau ada dagangan makanan yang banyak pembelinya, pasti makanannya enak. Lantas saya mengajak isteri untuk mampir ke tukang bubur tersebut. Saking ramainya si tukang bubur dibantu oleh seorang asisten. Saya pun ikut antri dengan sabar untuk dilayani. Ada yang beda dari cara si tukang bubur melayani saya. Dia tahu bahwa saya membawa anak 1,5 tahun, tanpa ditanya si tukang bubur langsung memberikan saya sendok teh sambil berucap…”ini pak sendok untuk dedek nya, barang kali mau suapin bubur buat si dedek juga”. Dan tidak hanya itu, beliau juga memberikan tissue untuk melapisi mangkuk yang panas. Terkesan sepele ya…tapi buat saya ini yang membedakan beliau dengan tukang bubur yang lain. Beliau sangat sensitif memperhatikan kebutuhan pelanggannya. Dan yang lebih takjub lagi, beliau hanya seorang tukang bubur.
Dalam proses layanan di perusahaan anda, adakah anda sensitif memperhatikan hal-hal seperti itu ? Jangan penah anggap sepele hal-hal demikian. Bisa jadi hal seperti ini menjadi hot button yang akan membuat pelanggan anda tergila-gila dengan produk atau jasa layanan perusahaan anda. Dan hal yang demikian kadang datang dari hal yang paling sepele, hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh anda. Satu pengalaman lain yang membuat saya takjub akan pelayanannya, yaitu saat saya naik salah satu Ojek Online. Ketika mau naik, si tukang Ojek memberikan saya permen…iya permen.. Buat saya si tukang Ojek ini pintar menyenangkan pelanggan. Seolah beliau tahu bahwa saya kalau diboncengin motor suka mengantuk…makanya dikasih pemen … hahahaha.

Nah begitulah cara gampang menyenangkan pelanggan. Gak perlu yang ribet apalagi yang mahal. Berikut tips bagaimana cara menyenangkan pelanggan dengan cara yang mudah namun powerful membuat pelanggan senang dengan produk atau jasa anda… Ujung-ujungnya produk atau jasa anda jadi “ngangenin” buat pelanggan :

  1. Kuasai detail PRODUK dan JASA Anda. Contoh : Di sebuah foodcourt, rata-rata penjual makanan di sana menggunakan piring dan sendok plastik saat menyajikan makanan ke pelanggan. Hal ini dilakukan mungkin supaya penjual tidak perlu repot mencuci piring dan sendok yang telah dipakai pelanggan. Tapi untuk produk pempek hal ini tidak berlaku, karena mengkonsumsi pempek menggunakan sendok plastik akan membuat pelanggan tidak nyaman.
  2. Perhatikan perilaku pelanggan Anda saat memakai atau mengkonsumsi produk Anda. Anda tahu D’Cost ? Kalau anda pernah makan di sana anda bisa minum es teh manis sepuasnya tanpa harus bayar. Ini membuat pelanggan happykarena setelah makan orang pasti perlu minum dan bila disediakan minuman enak dan gratis tentunya akan membuat pelanggan senang.
  3. Perhatikan proses servicedari industri lain. Misalnya industri anda adalah telekomunikasi maka cobalah belajar dari industri lain misalnya otomotif atau perbankan. Beda industri bisa jadi memberikan ide segar yang bisa diterapkan di industri anda.

Demikianlah tips yang bisa saya share untuk kali ini, semoga menginspirasi dan bisa diterapkan.

Sumber : Erwin Yahya|@erwinsnada –Senior Trainer 

Copyright © 2015 168Solution