Semangat Tanpa Pamrih PMI Surabaya

Semangat Tanpa Pamrih PMI Surabaya

Dari halaman muka, rumah tua itu terlihat sunyi. Hanya ada satu buah mobil yang parkir. Rumah berarsitektur Belanda itu sama sekali tidak mencerminkan kesibukan penghuninya. Ketika memasuki pintu samping baru terasa detak nadi bangunan ini. Ternyata, ada beberapa ruangan di bagian belakang rumah utama itu. Ruangan pertama difungsikan sebagai ruangan kerja utama. Ruangan di sebelahnya difungsikan untuk menyimpan peralatan. Di bagian terpisah, ada bangunan baru berlantai dua dengan aula yang cukup luas. Dua ambulans terpakir tepat di bawah bangunan bertingkat itu. Beberapa sepeda motor menunjukkan mobilitas tinggi para penghuninya.

Di ruangan utama, sekumpulan anak-anak muda berseragam senada merah putih duduk mendiskusikan sesuatu. Semangat dan optimisme terpancar di wajah mereka. Di sudut lain, beberapa orang sibuk dengan seperangkat alat komunikasi.  Deretan obat-obatan tersusun rapih pada lemari di pojok ruangan. Papan tulis besar di tengah ruangan ditempeli peta kota Surabaya, jumlah dan jenis kasus yang sudah ditangani hingga beberapa rencana organisasi ke depannya. Ternyata mereka adalah bagian dari Tim Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya yang terintegrasi dengan di Command Center 112 Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Meski dari luar kelihatannya sepi, aktivitas ruangan itu justru bergerak terus selama 24 jam.

Armada PMI Surabaya

“Dari dulu kami memang sudah bersinergi dengan Pemkot Surabaya untuk penanganan bencana” ujar Sugeng Wahyu, koordinator PMI Surabaya dengan senyum. Namun sejak 112 resmi beroperasi, sinergi ini menjadi lebih kuat karena keberadaan PMI menjadi satu komponen yang wajib dalam setiap penanganan kasus emergency bukan hanya soal bencana. “SOP kami pun menyebutkan dalam setiap kasus yang dilaporkan melalui 112, harus diterjunkan rata-rata enam orang personil PMI di lapangan” lanjut Sugeng.

Bersama Tim PMI Surabaya

Setahun terakhir, telah banyak cerita yang relawan PMI dan Tim 112 lalui. Dengan bersemangat Sugeng mengisahkan, salah satu pengalaman paling mendebarkan adalah ketika mereka harus mengevakuasi jenazah korban yang tersengat aliran listrik di atap sebuah rumah. Keluarga dan masyarakat sekitar ngeri untuk menurunkan jenazah, karena bisa saja bukannya menolong malah menambah korban baru. Sekitar satu jam, jenazah tergeletak di lokasi musibah. Keluarga korban histeris, urusan kecil membetulkan genteng ternyata merenggut nyawa salah satu kerabat mereka. Ketika para anggota keluarga bingung mencari pertolongan, salah seorang tetangga korban menghubungi 112. Dalam hitungan kurang dari 15 menit Tim 112 lengkap dengan personil PMI tiba di lokasi.

Tantangan cukup berat bagi tim evakuasi, mengingat jaringan listrik di daerah itu memang cenderung kurang rapih. Tim 112 bahu membahu melakukan evakuasi dan relawan PMI mendapat tugas cukup berat untuk mengangkat jenazah. Posisi jenazah yang saat itu masih seperti sedang membetulkan atap rumah, membuat para relawan PMI ikut tersentuh. Sulit rasanya membayangkan perasaan keluarga korban yang menunggu dengan penuh kecemasan.  Akhirnya berkat kerjasama seluruh tim diikuti keikhlasan dan ketulusan semua selesai dengan baik.

Dalam kasus lain, relawan PMI pernah menolong seorang Bapak yang terkena serangan jantung saat  berkendara. Tiba-tiba saja mobil yang dikemudikannya menabrak pengendara motor di sebuah persimpangan jalan yang cukup padat. Untungnya seorang pengguna jalan berinisiatif menelpon 112 setelah tidak ada respon dari dalam mobil tersebut. Sesampai di lokasi, Tim 112 memecahkan jendela mobil dan PMI memberikan pertolongan pertama pada korban.

Masih banyak deretan peristiwa lain yang berkesan bagi para awak PMI. Dari musibah kebakaran besar hingga laporan orang yang jatuh ke sumur seluruhnya melibatkan PMI. Membangun sinergi dengan seluruh Tim 112 pada awalnya merupakan tantangan tersendiri. Setelah setahun berjalan, inilah wujud komitmen Pemkot Surabaya bagi keselamatan warganya. Perhatian Pemkot Surabaya pada warganya memang tidak main-main.

Kini, secara rata-rata setiap hari setidaknya ada tiga kasus emergency yang ditangani oleh PMI Kota Surabaya. Kasusnya pun mulai beragam, dari kecelakaan lalu lintas, kebencanaan bahkan diikutsertakan dalam kegiatan umum seperti konser musik, demonstrasi dan lain-lain, sebagai bentuk preventif jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tahun-tahun sebelumnya kasus kebakaran mendominasi, bisa dibilang salah satu penyebabnya adalah suhu udara di Surabaya yang secara rata-rat cenderung lebih panas dibanding daerah lain mudah memicu terjadinya kebakaran. “ Tapi, uniknya, di salah satu wilayah di Surabaya, kebakaran jutsru dipicu dari kebiasaan buruk masyarakatnya menggunakan perangkat listrik” ujar Sugeng sembari menunjukkan peta lokasi kebakaran itu. Kini seiring dengan makin baiknya edukasi yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya ke wilayah-wilayah yang rawan kebakaran tersebut, jumlah kebakaran makin menurun. Namun tidak berarti tugas untuk siap siaga selama 24 jam juga ikut menurun, tegas Sugeng.

Semua kasus yang melibatkan  relawan PMI unik dengan bermacam tantangan yang terkadang tidak selalu ada dalam buku teori. Oleh karena itulah, kematangan personil dilihat dari jam terbang pengabdiannya bukan hanya berapa banyak pelatihan yang mereka ikuti. Tentu tetap dengan rutin memberikan pelatihan dan pembekalan kepada para relawannya terutama terkait standar pertolongan dan penyelamatan jiwa.  Saat ini personil PMI Kota Surabaya terdiri dari staf organik dan relawan yang 90% diantaranya adalah mahasiswa 11 perguruan tinggi di Surabaya. Meski tidak dibayar, peminat menjadi relawan selalu tinggi. Bagi mereka, ada kebanggaan tersendiri dapat melakukan tugas mulia ini. Para relawan juga datang dari latar belakang pendidikan yang beragam, tidak harus berlatar belakang medis atau kesehatan untuk membantu sesama. Niatnya cukup hanya satu menjadi bagian dari kerja kemanusiaan.

Bagi Sugeng dan teman-temannya, keberadaan mereka dalam Tim 112 Pemkot Surabaya, membuat pekerjaan ini terasa lebih bermakna. Menjadi salah satu tulang punggung 112  adalah sebuah penghargaan bagi PMI. Musibah bisa terjadi kapan saja, tanpa kita pernah tahu. Ada bahagia yang tidak terlukiskan jika berhasil memberi pertolongan pertama pada setiap korban. Meski tidak jarang, degup jantung para relawan ikut berdetak lebih kencang.  Telat sedikit saja, ada jiwa yang melayang.

Akhirnya gedung tua di Jalan Sumatera, itu menjadi saksi, bahwa PMI Kota Surabaya berjanji untuk terus mengabdi membantu sesama yang tertimpa musibah.

Tinggalkan Balasan